
Pasaman, Sumbar — Malam yang seharusnya menjadi puncak sukacita peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kabupaten Pasaman, berubah menjadi malam penuh jeritan, asap mesiu, dan tubuh terbakar. Empat orang mengalami luka bakar serius dan satu orang pingsan akibat shock, setelah kembang api yang ditembakkan panitia justru menyasar ke arah penonton, Sabtu malam (4/10/2025).
Ledakan kembang api terjadi hanya beberapa detik setelah Bupati Pasaman secara simbolis menekan sirine dari atas panggung. Bukannya meluncur ke langit, kembang api itu malah menghujani kerumunan warga yang tengah menikmati hiburan organ tunggal di depan panggung utama.
“Saya lihat sendiri, kembang api jatuh, meledak di tengah-tengah orang banyak. Orang-orang menjerit, berlarian. Ada yang langsung tersungkur, badannya terbakar!” ujar Zul, saksi mata yang berhasil keluar dari kerumunan dengan napas tersengal dan pakaian berbau mesiu.

Tubuh Pelajar SMA Terbakar, Dagu Melepuh
Salah satu korban adalah pelajar putri SMA yang kini dirawat intensif di IGD RS Tuanku Imam Bonjol. Kaki dan tangannya melepuh. Dari tempat tidur rumah sakit, dengan suara lirih ia berkata:
> “Saya berdiri di bawah panggung. Tiba-tiba terasa panas di dagu saya. Ternyata kembang api itu meledak di depan saya… saya teriak, tapi sudah terlambat.”
Tak hanya luka fisik, trauma mendalam juga dialami korban lainnya. Seorang pengunjung bahkan harus dilarikan karena pingsan akibat syok berat.
Menurut petugas medis RS Tuanku Imam Bonjol, empat korban mengalami luka:
Dua luka bakar berat,
Dua mengalami luka ringan akibat percikan di mata dan bahu,
Satu korban pingsan dan dirawat karena trauma.
Kelalaian Panitia, Tak Ada Antisipasi
Sejumlah warga menilai insiden ini sebagai bukti kelalaian panitia acara. Mereka mempertanyakan bagaimana bisa kembang api diarahkan ke tengah massa tanpa pengamanan atau perimeter yang jelas.
“Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini kelalaian fatal. Mau gagah-gagahan dengan pesta rakyat, tapi malah mengorbankan keselamatan rakyat!” tegas seorang tokoh masyarakat Lubuk Sikaping yang geram dengan insiden ini.
Ironisnya, acara bertajuk “Pesta Rakyat” ini justru meninggalkan luka mendalam bagi rakyatnya sendiri.
Pasar Malam Jadi Ajang Taruhan Nyawa,
Pasar malam yang digelar sejak 1 Oktober hingga 11 Oktober itu menawarkan aneka permainan dan kuliner khas. Namun, di balik lampu warna-warni dan musik riuh, tak ada mitigasi risiko, tak ada petugas evakuasi, dan nyaris tak ada standar keamanan.
“Ramainya cuma malam Minggu. Hari biasa sepi karena hujan. Kalau seperti ini terus, jangankan untung, balik modal saja sudah syukur,” keluh salah satu pedagang.
Kini, warga Pasaman tak hanya bertanya-tanya soal keselamatan di event pemerintah, tapi juga menanti: siapa yang akan bertanggung jawab atas luka yang ditinggalkan malam itu?
> Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemda Pasaman atau panitia pelaksana terkait insiden tersebut.
