
Pasaman, Sumatera Barat, Beritanegara.com — Menyikapi keresahan masyarakat terhadap maraknya aktivitas penebangan liar di kawasan Hutan Konservasi Malampah Alahan Panjang, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Alahan Mati, Rosben Aguswar Dt. Batuah, mengambil langkah cepat dengan membentuk tim terpadu untuk meninjau langsung kondisi di lapangan.
Tim yang dibentuk melalui musyawarah KAN Alahan Mati ini dipimpin oleh Feri Asman Dt. Rajo Nankayo, dengan dukungan Walinagari Alahan Mati dan unsur masyarakat setempat. Tujuannya adalah untuk memastikan kebenaran laporan warga mengenai kerusakan hutan di kawasan hulu Sungai Batang Nigi dan Sungai Batang Timaran, Kecamatan Simpati, Kabupaten Pasaman.
“Banyak masyarakat yang datang menyampaikan keresahan tentang kondisi hutan kita. Karena itu, KAN bersama Walinagari sepakat membentuk tim untuk meninjau dan mengumpulkan data di lapangan,” ujar Rosben Aguswar Dt. Batuah, Ketua KAN Alahan Mati.
Menurut laporan tim terpadu, ditemukan sejumlah titik pembalakan liar di kawasan konservasi. Beberapa batang pohon berdiameter besar tampak ditebang, dan terdapat pondok sementara yang diduga digunakan para pelaku. Aktivitas ilegal itu dinilai berpotensi menimbulkan bencana ekologis, seperti banjir bandang dan tanah longsor, jika tidak segera ditangani.
“Kerusakan hutan ini nyata. Dari hasil tinjauan tim, kita melihat adanya aktivitas pembalakan liar yang bisa mengancam keselamatan masyarakat di hilir,” ungkap Feri Asman Dt. Rajo Nankayo, pimpinan tim lapangan KAN Alahan Mati.
Rosben Dt. Batuah menegaskan, pembentukan tim tersebut merupakan bentuk tanggung jawab lembaga adat terhadap kelestarian alam dan keselamatan anak nagari. Ia berharap hasil temuan tim menjadi dasar kuat bagi pihak berwenang untuk melakukan penegakan hukum dan pengawasan lebih ketat di kawasan konservasi.
“Sebagai lembaga adat, kami tidak bisa menutup mata. Alam adalah bagian dari warisan adat yang wajib dijaga bersama. Kami hanya berupaya agar masalah ini segera mendapat perhatian dan tindakan nyata dari pihak berwenang,” tegasnya.
Kawasan Hutan Konservasi Malampah Alahan Panjang selama ini dikenal sebagai penyangga ekosistem utama dan sumber air bagi masyarakat di Pasaman bagian utara. Kerusakan di kawasan ini dikhawatirkan dapat memicu bencana alam serta mengancam kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah daerah dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat belum memberikan keterangan resmi terkait hasil temuan tim terpadu KAN Alahan Mati.
Langkah inisiatif yang diambil Rosben Aguswar Dt. Batuah bersama KAN Alahan Mati mendapat apresiasi dari masyarakat. Mereka menilai, tindakan cepat lembaga adat membentuk tim pemantau menjadi bukti nyata bahwa adat dan lingkungan dapat berjalan seiring dalam menjaga keseimbangan alam serta keselamatan nagari.
Refdinal
